Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan

SI SEMUT YANG JUARA postheadericon

gambar : agus karianto
         Malam itu, terjadi kegaduhan di kerajaan semut. Salah satu warganya bernama Mumut memberanikan diri mengikuti pemilihan pengganti Raja Hutan yang sebentar lagi akan habis masa tugasnya. Memang seluruh warga semut mengakui bahwa kepemimpinan si Mumut selama ini patut diacungi jempol. Prestasi si Mumut sangat banyak. Setiap kali ada kegiatan di kerajaan semut, maka si Mumutlah yang menjadi pemimpinnya. Walaupun prestasi si Mumut selangit di kalangan mereka, namun seluruh warga semut merasa cemas dan ragu bila dia bertindak nekad mengikuti pemilihan raja hutan.
         "Ide gila, Mut," kata teman-teman si Mumut. "Sebaiknya batalkan saja ikut pemilihan raja hutan."
        "Iya, Mut. Urungkan saja niatmu yang tidak masuk akal itu," seru teman si Mumut yang lain.
       "Benar, Mut. Kalau kamu mencalonkan diri menjadi raja di kerajaan semut pasti aku dukung. Tapi...kalau mencalonkan diri menjadi Raja Hutan aku meragukan kemampuanmu."
       Namun si Mumut  tersenyum  mendengar kekhawatiran teman-temannya. Si Mumut enggan mengurungkan niatkan, bahkan tekadnya semakin kuat menjadi raja hutan. Dia tidak menyangkan ternyata banyak teman-temannya yang sangat perduli dengan keselamatannya.
       "Mut, hentikan niatmu!" kata semut merah. "Kami sesungguhnya khawatir dengan keselamatanmu. Kami khawatir kamu akan celaka bila harus bertarung dengan musuhmu. Musuhmu sangat berat, Mut. Kami khawatir kamu tidak sanggup melawannya." 
       "Benar, Mut. Lawan tandingmu adalah Si Gajah!! Tubuh Gajah sangat besar, Mut! Sekali injak dengan kakinya maka tubuhmu akan hilang ditelan bumi," kata semut yang lain meyakinkan.
Sementara itu, beratus-ratus semut yang ikut mendengarkannya perdebatan itu ikut resah dan gelisah dengan kenekatan si Mumut. Semuanya khawatir seandainya si Mumut tewas maka mereka kehilangan calon pemimpin terbaiknya.
       "Teman-teman," kata si Mumut mulai menjawab keresahan teman-temannya. "Saya ucapkan terima kasih karena kalian begitu peduli dan mengkhawatirkan keselamatanku. Sebenarnya, kekhawatiran teman-teman itu berlebihan. Kita tahu khan setiap warga memiliki hak yang sama untuk menduduki posisi Raja Hutan. Nah...selama ini Raja Hutan selalu dimonopoli oleh yang memiliki kekuatan besar. Warga yang kuat senantiasa diunggul-unggulkan menduduki posisi penting. Tetapi, kali ini aku akan merubah pola pikir itu. Aku percaya dan telah memiliki taktik untuk memenangkannya. Aku akan buktikan bahwa rakyat kecil seperti kita layak menjadi raja hutan"
        "Hah? Kamu yakin memiliki taktik untuk memenangkannya, Mut?" tanya teman-temannya agak ragu.
        "Benar, asal kita bersatu maka aku akan mampu mengalahkan lawanku."
        "Maksudmu kita bersatu itu bagaimana, Mut?"
        "Begini, teman-teman. Untuk mengalahkan Gajah, aku perlu bantuan kalian. Aku butuh kekompakan kita. Aku butuh persatuan kita. Aku butuh kebersamaan kita. Maka aku yakin kalau kita bersatu pasti si gajah dapat aku kalahkan. Maukah kalian berjuang bersama-sama aku?" tanya si Mumut bersemangat.
        Dan tanpa dikomando seluruh semut menjawab : "Mauuuuuuuuuuuuuu.....mau...mau...kita bersatu melawan si Gajah."
        "Terimakasih teman-teman." kata si Mumut. "Nah, sekarang kita mulai menyusun strategi."
        Kemudian si Mumut mulai membagi tugas kepada seluruh semut. Sebagian semut diperintahkan untuk mengumpulkan buah merica sebanyak-banyaknya. Dan sebagian semut bertugas menumbuk setiap merica yang telah disetorkankannya. Sebagian semut bertugas menyaring merica yang telah ditumbuk. Kemudian merica yang telah halus ditempatkan pada sebuah kantong yang akan dibawa si Mumut bertarung melawan si Gajah.
        "Okey, kalau semua sudah siap maka aku akan pergi menemui si  Gajah  untuk  memulai pertarungan," kata si Mumut sambil mengangkat kantong berisi bubuk merica. Sementara itu semua semut mengiringinya dari kejauhan. Si Mumut terus berjalan menuju tempat pertandingan.
         Di tempat pertandingan, si Mumut nampak berdiri tegap sambil menunggu si gajah datang. Sementara itu, teman-teman si Mumut menyaksikannya dari kejauhan. Seluruh semut saling bergandengan tangan sambil berdo'a agar si Mumut diberi kekuatan untuk menghadapi si gajah.
         Tidak berapa lama,  di kejauhan nampak debu-debu beterbangan. Terdengar suara yang nyaring seperti bunyi terompet. "Toeeeeettttt....toeeeettt....toeeetttt." Ternyata yang datang adalah si gajah yang akan menjadi lawan tanding si Mumut. Si gajah datang diiringi teman-temannya seperti sapi, kerbau, kuda nil, dan hewan-hewan besar lainnya.
        "Aduh bagaimana ini?" kata teman si Mumut mulai merasa resah. "Bagaimana mungkin si Mumut bisa menghadapi lawan sebesar itu? Aduh...bagaimana ini?" Namun keresahan para semut tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara si gajah yang menggelegar.
        "Jadi yang menjadi lawan tandingku hanyalah seekor semut?!!!! Huuuahahahahahahaha....huuuahahaha....huuuahahaha...nekat benar kamu, Mut!" bentak si gajah sambil berkacak pinggang menunjukkan keangkuhan dan ketakaburannya.
       "Urungkan saja niatmu, Mut! Percuma kamu menghadapi kekuatanku! Kamu hewan kecil apa yang bisa kamu andalkan untuk bisa melawanku...hah?!"
       "Jangan takabur begitu, Gajah," kata si Mumut. "Setiap ketakaburan dan kesombongan tentu akan mencelakakan diri sendiri. Kamu jangan takabur dengan kekuatan yang kamu miliki sat ini. Semua kemungkinan bisa terjadi. Dan sebaiknya mari kita memulai pertandingan ini."
      "Puih ! Bukan sombong, Mut! Tapi ini kenyataan? Tubuhmu kecil, lalu mana bisa mengalahkan keperkasaanku. Sekali aku injak dengan kakiku maka tubuhmu akan masuk ke dalam tanah."
       "Berhenti menyombongkan diri, Gajah! Ayo segera hadapi aku!" kata semut sambil berlari menghampiri si gajah. Dan si gajah diam saja tidak menggerakkan tubuh sama sekali. Si gajah tahu bahwa dibutuhkan berpuluh-puluh langkah si  Mumut untuk bisa mendekati tubuhnya. Oleh karena itu sambil menunggu si semut berjalan di tubuhnya, si gajah memejamkan mata sambil tiduran di atas tanah. Si gajah benar-benar menganggap enteng kecerdikan si Mumut. Dan tidak berapa lama si Mumut telah berada di dekat belalai si gajah. Kemudian dia  mengeluarkan kantong yang berisi tumbukan merica halus dan secepat kilat merica halus tersebut ditaburkan ke kedua lobang hidung si Gajah. Sebelum si Gajah menyadari apa yang dilakukannya, maka si Mumut secepat kilat berlari memasuki telinga kanan si Gajah. Lalu dia menggigitnya kuat-kuat di beberapa tempat.
        "Toeeetttt...toeeettt...toeeett....aduh sakit..sakit...sakit...!!.telingaku sakit....hasiiihhhh....hasiihhh !!!," teriak si gajah menahan rasa sakit sambil berkali-kali bersin. Si gajah mencoba berusaha mengeluarkan hewan yang telah menggigit telinganya dengan belalainya, namun usahanya selalu gagal karena hidungnya telah dipenuhi oleh bubuk merica yang ditaburkan si Mumut sehingga hal inilah yang mengakibatkan dirinya senantiasa bersin terus menerus.
        Si gajah semakin resah merasakan telinganya sakit. Sementara itu hidungnya tidak henti-hentinya bersin. Akhirnya untuk meredakan rasa sakitnya, si  gajah berguling-guling ke atas tanah. Berkali-kali telinga kanannya dibentur-benturkan ke benda apa saja yang ada di dekatnya, namun rasa sakit di telinganya tidak hilang juga. Sementara itu, seluruh teman si Gajah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ingin menolong si gajah, namun si gajah terus meronta-ronta dan berlarian kesana kemari. Akhirnya, lama kelamaan tenaga si gajah mulai habis dan tubuhnya jatuh ke atas tanah tanpa bisa bergerak lagi. Si gajah sudah tidak berdaya. Dia akhirnya menyerah dan mengakui kekalahannya melawan si Mumut. "Aku mengaku kalah, Mut. Kamu memang hewan kecil namun amat cerdik." kata si gajah.
         "Horeee.....hore...hore...hore....hidup Mumut...Hidup Mumut...hidup Mumut," teriak para semut sambil berlarian mendekati si Mumut. "Hore...si Mumut yang cerdik kini berhak menjadi Raja Hutan....!"
         Si Gajah tertunduk malu. Dia malu telah meremehkan kecerdikan si Mumut. Ia menyesal telah bersikap takabur dan sombong dengan kekuatan diri sendiri. Setelah mengucapkan selamat atas kemenangan si Mumut, kemudian ia  pergi menjauh diikuti teman-temannya.


selesai

sumenep, 8 maret 2013      

PERSAHABATAN GAJAH DAN KERBAU postheadericon

gambar : agus karianto
         Dahulu kala, ada seorang petani yang memiliki hewan gajah dan kerbau. Hewan-hewan itulah yang membantunya dalam menggarap tanah pertaniannya. Gajah dan kerbau dengan senang hati bekerjasama membantu pak tani mengolah tanah pertanian. Setiap selesai mengolah tanah, mereka selalu mendapat jatah rumput yang segar dari pak tani. Dan mereka dengan senang hati memakan rumput itu bersama-sama.
         Namun, persahabatan gajah dan kerbau sedikit terganggu dengan kebiasaan jorok yang dimiliki kerbau. Si kerbau ternyata malas kalau disuruh mandi, sehingga setiap si gajah berdekatan dengannya maka akan tercium bau tidak enak yang sangat menusuk hidung si gajah. Mula-mula si gajah bisa tahan dan menyadari kekurangan temannya itu, tetapi lama kelamaan timbul rasa jengkelnya juga. "Kalau dibiarkan terus maka selera makanku akan hilang," pikir si gajah. Maka pada saat yang tepat si gajah menegur kebiasaan jorok temannya.
        "He, Kerbau. Tubuhmu bau...ayo sana mandi dulu ke sungai!" protes si gajah.
        Namun si kerbau pura-pura tidak dengar kata-kata si gajah.
        "Hei, kerbau. Tubuhmu bau...sudah lama kamu belum mandi!"
        "Oaaawww....malas," jawab si kerbau
         "Walah...walah...walah....jangan jorok begitu, ah! Badanmu bau...aku jadi malas kalau berdekatan dengan kamu."
         "Biar saja...aku malas mandi...dingin...badanku nanti bisa masuk angin...kamu mau kerokin tubuhku?"
         Dan si gajah tidak mau lagi berdebat karena takut merusak persahabatan mereka. Akhirnya dia pergi meninggalkan si kerbau sendirian.
         "Ya sudahlah kalau kamu bertahan dengan kemalasanmu...maka mulai besok aku enggan berdekatan dengan kamu lagi," demikian ancam si gajah.
         "Siapa takut.....siapa takut....oawwww," ejek si kerbau kepada si hajah.
         Pada keesokan hari setelah mereka menyelesaikan pekerjaan membajak sawah, sebagaimana biasa mereka mendapat jatah makan rumput dari pak tani. Dan sebagaimana kesepakatan sebelumnya si gajah enggan berdekatan dengan kerbau lagi. Si gajah berdiri di sebelah utara kotak makanan, sedang si kerbau berdiri di ujung sebelah selatan kotak makanan. Mereka berdiri berjauhan. Karena si gajah memiliki belalai yang panjang sehingga dengan enaknya dia meraih rumput-rumput yang letaknya jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan si kerbau hanya menikmati rumput yang ada di hadapannya saja. "Aduh...ini tidak adil," pikir si kerbau. "Aku cuma kebagian rumput sedikit, sedang si gajah mendapat jatah banyak? Ini tidak adil."
         "He he he he he.....kamu curang, Gajah! Kamu dapat rumput yang banyak sedangkan aku cuma mendapat jatah sedikit. Ini tidak adil'," protes si kerbau.
         "Ya adil kan! Kita berdiri berjauhan...siapa yang dapat meraih rumput sebanyak-banyaknya ya dia boleh menikmati sepuasnya. Ini kan perjanjian kita kemarin<' kata si gajah.
         Si kerbau akhirnya menyadari kesalahannya. "Kalau aku tidak segera mandi maka si gajah akan merebut jatah makanku setiap hari," kata si kerbau dalam hati. Dan sejak saat itu si kerbau senantiasa pergi ke sungai untuk membersihkan diri ke kali agar tubuhnya tidak bau lagi.
        Di kejauhan, si gajah tersenyum senang karena temannya sudah merobah kebiasaan joroknya. "Mulai besok aku akan memiliki teman yang hilang bau badannya. Dan aku akan membagi sama rata jatah makan rumputku dengan si kerbau."
        "Hoi, Gajah...kalau aku masuk angin maka kamu bertanggung jawab untuk menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih yaaa....'" teriak si kerbau sambil terus berendam di dalam air sungai



selesai

sumenep, 7 maret 2013

Si Kakek Monyet yang pembohong postheadericon

illustrasi : agus karianto
       Di sebuah hutan, hiduplah seekor monyet yang sudah tua. Semua teman-teman menyebutnya Kakek monyet. Dia kini hidup sendirian. Usianya yang sudah semakin tua menyebabkan dia tidak bisa mencari makanan ke dalam hutan. Oleh karena itu, setiap hari dia senantiasa mengharapkan pemberian makanan dari siapa saja yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
       Suatu hari, kakek monyet dinobatkan sebagai raja hutan. Jabatan itu diberikan kepadanya hanya karena terpaksa, sebab Pak Harimau yang menjabat sebagai raja hutan saat itu sedang sakit parah. Sementara hewan-hewan lain yang pantas menggantikannya sedang bertugas mencari obat untuk kesembuhan rajanya. Sedangkan seluruh hewan yang tidak kebagian tugas merawat sang raja tidak mau ditunjuk sebagai raja sementara menggantikan Pak Harimau. Akhirnya, daripada terjadi kekosongan pimpinan di hutan maka terpaksa ditunjuklah kakek monyet untuk menjadi Raja hutan.
        Ternyata kepemimpinan kakek monyet tidak sebaik yang diharapkan hewan-hewan. Setelah menduduki jabatan raja hutan, dia sering berbuat tidak jujur. Sering berbuat curang, mau menangnya sendiri. Dan kalau menyelesaikan masalah, keputusannya senantiasa tidak adil. Dia selalu memenangkan  siapa saja yang bisa memberikan keuntungan padanya. Siapa yang bisa memberi hadiah besar maka perkaranya akan dimenangkan oleh kakek monyet. Meskipun mereka dijadikan terdakwa, namun kakek monyet bisa merobah keputusan dengan cara meringankan hukumam bahkan bisa membebaskannya dari segala tuduhan. Sehingga  perbuatan kakek monyet menjadikan seluruh penghuni hutan geram. Marah. Jengkel. Seluruh penghuni hutan berniat menggulingkan kepemimpinannya. Namun niat mereka tidak terlaksana sebab belum ada hewan lain yang berani menggantikan kedudukannya. Akhirnya mereka hanya bisa sabar sambil terus menunggu Pak Harimau sembuh.
         Betahun-tahun berlalu, ternyata Pak Harimau belum sembuh-sembuh juga. Hal ini membuat hewan-hewan sedih karena mereka semakin menderita dan tidak senang dengan kepemimpinan Kakek monyet. Namun lain halnya dengan sikap kakek monyet. Akibat Pak harimau yang tidak kunjung sembuh justru membuat kakek monyet semakin senang, karena jabatannya semakin panjang dan semakin lama dia menikmati enaknya fasilitas menjadi raja hutan.
         Suatu hari, kakek monyet membuat ulah. Saat ia istirahat di tepi danau sendirian, tiba-tiba dia berteriak sekencang-kencangnya.
        "Hoiiiii........ada buaya putih...," teriak kakek monyet.
         Seluruh penghuni hutan terkejut mendengar teriakan kakek monyet. Maka mereka serentak menghampiri kakek monyet yang sedang tiduran di tepi danau. Mereka memang menanti-nanti hewan yang bisa menggantikan kedudukan kakek monyet. Oleh karena itu, begitu mendengar kedatangan buaya putih maka mereka spontan merasa senang dan ingin menyambut kedatangannya. Mereka berniat mengganti kedudukan raja hutan yang dipegang kakek monyet kepada si buaya putih.
         "Mana buaya putihnya, kakek monyet?" tanya semua penghuni hutan.
         "Hahahahahaha...hohohoho...hihihihi....huhuhuhu.....kalian kena tipu," jawab kakek monyet sambil menari-nari dan melompat-lompat kegirangan. "Hahahaha...Mana ada di jaman sekarang buaya putih, sih! Kalian ini mudah kena tipu...hahahahaha..."
         Akhirnya, semua hewan pulang dengan perasaan kecewa dan dongkol kepada kakek monyet. Mereka jengkel karena telah dibohongi raja mereka. Namun belum lama hewan-hewan meninggalkan tempat dimana sang raja istirahat, tiba-tiba ada teriakan sang raja lagi.
         "Hoiiiiii.....rakyatku....ayo kemari....ternyata ada utusan buaya putih nih....cepat!" teriak kakek monyet.
          Dan seluruh hewan-hewan kembali percaya dengan panggilan sang raja. Mereka berlarian menghampiri sang raja yang sedang beristirahat. Tidak terkecuali hewan kecil, tua, muda, jantan dan betina semua mendatanginya. Namun lagi-lagi mereka menjadi kecewa karena ternyata sang raja telah membohonginya untuk yang kedua kalinya.
         "Hahahahaha..hohoho...hihihi....huhuhu.....rakyatku.....kachian dech lu...kalian kena tipu lagi..hohoho." kata kakek monyet sambil bernyanyi-nyanyi sambil tubuhnya berjumpalitan di atas tanah.
          Untuk yang kedua kalinya seluruh hewan semakin jengkel terhadap kebohongan raja mereka. Ternyata jabatan yang disandang kakek monyet disalahgunakan untuk membohongi rakyatnya. Kakek monyet tidak memikirkan akibat tingkahnya membohongi mereka. Akibat ulah si kakek monyet, membuat pekerjaan di rumah mereka terbengkalai. Pekerjaan memasak makanan tertunda, pekerjaan mencari air minum tertunda. Akhirnya, mereka pulang dengan perasaan kecewa. Mereka semakin apatis dengan sikap rajanya. Mereka  semakin waspada dan hati-hati serta tidak mudah percaya apabila raja mereka mengeluarkan perintah.
         "Hoiiiii....ada buaya...hoiii ada buaya....hoiiii ...tolong...tolong...tolong...ada buaya...sungguh nih ada buaya...tolong...tolong rakyatku !!!" teriak kakek monyet kebingungan sambil mencoba berlari dari tangkapan si buaya.
         "Ah....Kakek monyet mulai berbohong lagi, tuh, teman-teman," kata salah satu hewan.
         "Iya...sudah dua kali kita kena tipu," timpal yang lain.
         "Ya...biarkan saja kakek monyet teriak-teriak. Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan kita yang belum selesai. Ayo...pulang..pulang...pulang...," kata hewan lainnya sambil berjalan pulang ke rumah masing-masing.
         Ternyata di pinggir danau, kakek monyet benar-benar berhadapan dengan sang buaya. Kakek monyet mencoba berkali-kali melepaskan diri dari gigitan si buaya, namun usahanya selalu gagal. Semakin kuat kakek monyet mengeluarkan tenaga untuk melepaskan diri dari gigitan sang buaya maka tenaganya semakin melemah. Akhirnya si buaya dengan mudah melumpuhkannya. Dan dengan sekali kibasan ekornya, membuat tubuh kakek monyet tidak berdaya dan akhirnya mati. Lalu si buaya membawa tubuh kakek monyet ke sarangnya.
          "Kasihan nasib Kakek Monyet," kata si burung kenari yang sejak lama memperhatikannya. "Akibat ulah kakek monyet yang selalu berkata bohong akhirnya banyak rakyatnya yang tidak percaya terhadap semua perintahnya. Disaat dia terjepit dan memerlukan bantuan namun rakyatnya sudah tidak mempercayai kata-lkatanya lagi. Ucapan sang raja dianggap angin lalu saja. UCAPAN SANG RAJA PASTILAH BOHONG BELAKA.


pesan moral : pemimpin atau siapa saja yang suka berbohong membuat orang tidak mempercayainya.

selesai

sumenep, 4 maret 2013

KISAH SI TOKEK DAN TONGKAT RAJA postheadericon

Illustrasi : agus karianto
          Dahulu kala, kerajaan Antah Beratah diperintah oleh seorang raja yang bijaksana, jujur dan amanah. Seluruh menteri dan prajurit juga memiliki sifat yang sama dengan rajanya. Bijaksana, jujur dan amanah. Pemimpin yang jujur dan amanah membuat rakyatnya hidup tenteram, aman, damai. Seluruh rakyat tidak pernah terjadi fitnah dan pertengkaran. Suasana kerajaan begitu damai dan tenteram. Kalau ada konflik di antara mereka senantiasa diselesaikan dengan jalan damai.
          Suatu hari, si kancil yang terkenal sok usil terhadap teman-temannya ingin menguji kebenaran sifat teman-temannya. "Aku ingin menguji salah satu temanku, ah! Apa benar mereka jujur dan bisa menjaga amanah," kata si kancil dalam hati. Kemudian  ia mulai mencari sasaran, siapa diantara temannya yang bisa dijadikan uji cobanya. Nah, kebetulan saat itu ada seekor tokek sedang berjemur di bawah sinar matahari di pinggir sungai.
          "Assalamu'alaikum, tokek," sapa si kancil.
          "Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarokatuh," jawab si tokek. "Wah, mau jalan-jalan kemana, Cil?" lanjut si tokek.
          "O aku baru saja lari pagi, tokek," jawab si kancil "Bukankah lari pagi itu sangat baik buat kesehatan kita. Racun-racun yang ada di kulit kita akan keluar bersama air keringat. Jadi tubuh kita makin sehat!"
         "O begitu ya, Cil?" 
         "O iya, tokek. Tadi  aku  dipanggil  Raja. Sebentar lagi sang Raja mau bepergian. Nah,  beliau  berpesan agar aku memberikan  tongkat ajaibnya kepada kamu. Selama sang Raja pergi kamu diperintah untuk merawat dan menjaganya." kata si kancil
       Si tokek terdiam  keheranan. "Apakah benar sang Raja mempercayakan dirinya untuk menjaga tongkat saktinya?" pikir si tokek. "Bukankah di kerajaan ada prajurit yang bisa menjaganya?"
       "Bagaimana...kamu mau atau tidak, tokek ?"
       "Tapi.....???!!!" si tokek merasa ragu dengan kata-kata si kancil.
       "Lho..kamu kok jadi ragu begitu?" kata si kancil. "Bukankah selama ini kalian terkenal jujur dan suka menjaga amanah. Kalau kamu tidak mau maka aku akan mengembalikan amanah ini kepada Raja."
      "Engng...iya..iya...iya...aku mau," jawab si tokek tanpa bisa berpikir panjang lagi.
        "Nah...silahkan kamu terima tongkat ajaib ini," kata si kancil sambil memberikan benda mirip tongkat kepada si tokek.  "Tapi kamu harus hati-hati jangan sampai tongkat ini hilang!"
        "Iya...iya...iya...insyaallah aku akan menjaganya...ini khan perintah sang raja...jadi suatu kehormatan bagiku mendapat amanah dari sang raja."
          Kemudian si tokek menerima sebuah benda mirip tongkat. Benda itu berasal dari potongan dahan pohon yang dibentuk mirip tongkat. Ukurannya cukup besar dan berat. Si tokek merasa kesulitan menerima dan mengangkat tongkat tersebut. Tubuhnya terlalu kecil dan dirinya tidak kuat mengangkatnya. Oleh karena itu si tokek menaruh begitu saja tongkat tersebut di pinggir sungai. Si kancil tersenyum melihat tingkah temannya sambil berjalan meninggalkan si tokek.
        Si tokek terdiam dan tidak mengerti mengapa ia begitu saja menerima perintah si kancil. "Tapi ini perintah raja, aku tidak boleh menolaknya. Aku harus melaksanakannya," kata si tokek.
        Setiap hari si tokek senantiasa setia menjaga tongkat ajaib sang raja. Kini dia tidak bisa pergi terlalu jauh sebab takut tongkat tersebut hilang. Sebenarnya ia berniat memindahkan tongkat tersebut ke rumahnya agar dia mudah mengawasi tongkat si Raja, namun dia tidak mampu mengangkat tongkat yang berukuran besar dan berat itu. Akhirnya demi menjaga amanah raja maka ia senantiasa berkorban menjaganya siang malam di tepi sungai.
        Suatu hari, lingkungan kerajaan diguyur hujan yang sangat lebat. Air meluap kemana-mana. Air sungai mulai naik. Dan si tokek menjadi resah sebab tongkat ajaib sang raja yang dijaganya mulai terendam air sungai. Kemudian, karena air sungai semakin meluap maka tongkat ajaib yang dijaganya mulai terhanyut terbawa aliran air sungai. Si tokek kebingungan. Kemudian dia berteriak-teriak meminta pertolongan :    "Tolong..tolong...tolong...tongkat ajaib sang raja terhanyut...tolong..tolong...tongkat...tongkat....tongkat...tongkat...tongkat....!!!"
Si tokek makin kalut. Dia berlarian ke sana kemari sambil mencari-cari kemana tongkat yang dijaganya terhanyut. Namun usahanya sia-sia. Tongkat tersebut sudah hilang terbawa derasnya air sungai.
Si tokek bersedih. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga  amanah Sang Raja. Dia gagal menjalankan amanah sang raja. Oleh karena itu, demi menjaga amanah sang raja maka si tokek memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah demi mencari tongkat sang raja yang hilang terbawa arus sungai.
         Dan mulai hari itu si tokek mulai mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan setiap kali ia berada pada suatu tempat ia senantiasa berteriak-teriak : " Tolong... tolong.... tolong.....tolong....tolong.... tolong...tongkat....tongkat..tongkat...tongkat...tongkat....!"
Bila tidak ada kabar tentang keberadaan tongkatnya ia lal pergi dan terus terus berusaha mencarinya kemanapun tongkat itu berada sambil terus berteriak : "Tolong tolong tolong tolong...tongkat..tongkat...tongkat...tongkat...."
         Dan sampai kinipun si tokek masih mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan  tongkat ajaib sang Raja sambil berteriak-teriak : "TOLONG TOLONG TOLONG TOLONG ...TONGKAT....TONGKAT...TONGKAT...TONGKAT...TONGKAT....."  Dan, sekarang kita sering mendengar si tokek masih selalu berteriak-teriak  : "OTOK..OTOK...OTOK...OTOK...TOKEEEK...TOKEEEEK...TOKEEEEK...TOKEEEEK...
Sementara itu si kancil takut berjumpa si tokek karena merasa berdosa telah berbohong tentang tongkat ajaib si raja yang ternyata bukan tongkat milik si Raja melainkan hanyalah potongan batang mahoni yang tergeletak di tepi sungai.

selesai
sumenep, 27-2-2013

SANG KURA-KURA PENGHAYAL postheadericon

          Di sebuah kerajaan, ada seekor kura-kura yang suka mengeluh. Setiap hari, tiada henti-hentinya dia menyesali hidupnya. Dia selalu membandingkan kelebihan teman-temannya dengan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Kadang-kadang ia menyesal mengapa tubuhnya dihimpit dengan cangkang yang keras sehingga ia tidak bisa bergerak cepat seperti kijang, kelinci, kuda. Kadang-kadang ia menyesal kenapa hanya bisa berjalan merayap di tanah dan tidak bisa terbang bebas untuk melihat keindahan alam dari udara seperti burung elang, pipit, burung bangau. Kadang-kadang ia merasa menyesal karena hanya memiliki tubuh kecil sehingga tidak bisa menjadi jagoan seperti singa, badak, buaya, harimau. Kadang-kadang dia merasa menyesal kenapa dirinya tidak memiliki ekor yang panjang seperti kera sehingga bisa digunakan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain.
            Sikap kura-kura yang senantiasa mengeluh membuat teman-temannya bosan. Kura-kura kurang bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya. Dia tidak mengetahui potensi dirinya yang sebenarnya. Akibat suka mengeluh, dia tidak bisa mengembangkan potensi dirinya yang bisa digunakan untuk merobah masa depannya sendiri. Dia lupa bahwa Tuhan menciptakan sesuatu tentu memiliki potensi, bakat dan kelebihan yang berbeda. Dia lupa bahwa setiap makhluk hidup jangan sekali-kali iri dengan kelebihan yang dimiliki makhluk hidup yang lain.
            Suatu hari, puteri raja meminta ayahandanya agar dirinya diperkenankan memelihara hewan yang akan menjadi temannya setiap hari. Dan sang puteri menginginkan agar hewan tersebut tidak bisa berjalan cepat, tidak bisa terbang dan badannya tidak boleh terlalu besar serta jinak. Akhirnya, sang raja menitahkan seluruh prajuritnya untuk mencari hewan yang dimaksud. Dan secara kebetulan akhirnya para prajurit menemukan sang kura-kura.
            Sang puteri raja senang mendapat teman seekor kura-kura. Bentuknya lucu, jalannya pelan, tidak buas, ukurannya mungil. Sepanjang hari sang puteri senantiasa bermain-main dengan sang kura-kura. Tubuh sang kura-kura yang sebelumnya kotor lalu dimandikan. Kulit cangkang kura-kura yang terkelupas disikat dan dibersihkan. Akhirnya, setelah mendapat perawatan istimewa dari sang puteri raja maka tubuh sang kura-kura nampak mengkilat dan menawan. Sang kura-kura mendapat perlakuan yang istimewa dari sang puteri raja. Makan dan minum sang kura-kura semakin terjamin. Tempat tidurnya juga khusus. Sang kura-kura merasa gembira dengan perobahan gaya hidup pada dirinya. Sekarang ia tidak perlu susah-susah mencari makan dan minum karena semua telah disiapkan oleh sang puteri. Sekarang dia tidak perlu susah-susah mencari air untuk persiapan mandi karena semua telah disediakan oleh sang puteri. Sekarang kerjanya hanya berjalan-jalan dan menemani sang puteri di dalam kamarnya saja.
             Suatu saat, sang kura-kura merasa bosan juga hidup bersama sang puteri raja. Walaupun makan, minum, tidur dan mandi cukup terjamin namun kebebasan hidupnya terkekang. Sekarang ia tidak bisa bebas bertemu teman-temannya. Sekarang ia tidak bisa menikmati hidup di alam bebas. Sekarang ia tidak bisa mandi di sungai seperti sebelum tinggal bersama sang puteri raja.
         "Uft...bosan kalau harus hidup seperti ini," kata sang kura-kura. "Aku harus mencari akal agar aku bisa keluar dari kerajaan ini." Lalu sang kura-kura berusaha mencari akal agar dirinya bisa bebas keluar dari kerajaan ini. Akhirnya, ia menemukan akal agar sang puteri raja dan para prajurit membencinya agar dia bisa diusir dan dibuang dari kerajaan.
          Dan malam itu, sang kura-kura sengaja buang hajat di kamar sang puteri. Ketika sang puteri bangun di pagi hari, dia merasa terkejut karena di kamarnya penuh dengan kotoran yang baunya tercium ke seluruh istana sang raja. Sang puteri marah-marah dan menyuruh para prajurit untuk membersihkannya. Begitu pula sang puteri memarahi sang kura-kura yang bertindak jorok di dalam kamarnya.
          "Lain kali kalau kamu ingin buang kotoran bilang dong, agar para prajurit membawamu ke tempat buang kotoran di  kerajaan !" bentak sang puteri kepada kura-kura. "Kamu tahu, aku paling tidak suka kamarku kelihatan jorok. Apalagi baunya sampai memenuhi istana raja"
          "Tapi itu memang kebiasaan hamba, sang puteri," jawab kura-kura sambil berharap sang puteri semakin marah dan mengusirnya dari kerajaan.
          "Iya, kali ini kamu saya maafkan. Dan lain kali kamu harus bilang, ya." kata sang puteri sambil mengelus-elus hewan kesayangannya. Sang kura-kura sebenarnya bosan dengan perlakuan sang puteri kepadanya sebab semakin sang puteri menyayanginya maka peluang untuk keluar dari kerajaan akan semakin kecil.
           Oleh karena itu pada keesokan harinya, sang kura-kura kembali ingin melaksanakan rencananya agar bisa keluar dari kerajaan. Dia kembali berpura-pura akan buang kotoran di kamar sang puteri.
          "Sang puteri....saya sudah tidak tahan nih!" seru sang kura-kura.
           Sang puteri terbangun, dan dia cepat-cepat memanggil para prajurit untuk membawa sang kura-kura keluar kamarnya.
           "Tapi, tuan puteri untuk kali ini bau kotoranku akan semakin bau dari yang kemarin, " kata kura-kura. "Aku takut seluruh istana akan merasakan bau kotoranku."
           "Lalu bagaimana ini, kura-kura ?" tanya sang puteri nampak kalut dan bingung.
           "Begini saja sang puteri, ijinkan aku buang kotoran di pinggir sungai yang jauh dari kerajaan ini, sehingga istana terhindar dari aroma dan  bau dari kotoranku."
           "Lalu bagaimana agar kamu bisa cepat sampai ke sana?"
           "Lho. di kerajaan ini khan ada burung rajawali. Biarlah dia yang akan mengantar saya kesana dengan cepat." kata kura-kura.
          "Hah, bagaimana caranya? Apakah burung rajawali harus mencakar tubuhmu? Wah aku tidak mau bila tubuhmu sampai terluka. Aku tidak setuju bila dengan cara seperti itu."
          "Jangan khawatir sang puteri, tidak seperti itu caranya. Aku juga tidak mau apabila tubuhku dicengkeram oleh kuku-kuku rajawali yang runcing itu. Namun, kedua kaki sang rajawali harus mencengkeram sebatang tongkat dan aku akan bergelayutan dengan cara menggigit tongkat yang dibawanya. Nah dengan cara begitu aku akan bisa mencapai pinggir sungai dengan cepat dan tubuhku aman dari cengkeraman kaki-kaki rajawali. Bagaimana, sang puteri?"

          Sang puteri tersenyum mendengar ide sang kura-kura yang cemerlang itu. Akhirnya ia menyetujuinya. Dan seluruh prajurit kerajaan diperintahkan sang puteri untuk mempersiapkan keperluan rencana sang kura-kura. Dan tidak berapa lama, seluruh persiapan telah selesai. Dan sang kura-kura telah menggigit tongkat yang dibawa rajawali. Lalu dalam sekali kepakan sayap saja sang rajawali telah mengudara di angkara. Sang kura-kura merasa senang karena rencananya berhasil. Dia akhirnya bisa keluar dari lingkungan kerajaan yang membosankan. Ia ingin hidup bebas seperti dulu lagi. Ia ingin bisa terbang bebas seperti rajawali yang membawanya. Dan untuk merayakan kegembiraan bisa keluar dari kerajaan dan berpisah dengan sang puteri raja, maka sang kura-kura melambaikan tangan kepada sang puteri sambil berteriak "Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......."
Sang kura-kura lupa bahwa saat ini tubuhnya berada di angkasa bersama rajawali. Dan sejak tadi mulutnya senantiasa menggigit tongkat yang dibawa rajawali agar tubuhnya tidak terjatuh saat berada di angkasa. Namun, karena kecerobohannya sendiri yang ingin meluapkan kegembiraan bisa berpisah dengan sang puteri maka tanpa sadar mulutnya terbuka. Saat mulutnya terbuka maka tubuhnya terlepas dari tongkat rajawali, lalu tubuhnya meluncur kebawah dengan cepat dan jatuh ke atas permukaan tanah. Goncangan yang keras pada tubuhnya akhirnya membuat tubuh kura-kura luka parah dan akhirnya mati.



tamat


moral cerita : Bersyukurlah terhadap apa apa-apa yang telah dianugerahkan Allah Swt kepadamu, niscaya
                     Allah Swt akan menambah berkah rasa syukurmu. Namun, bila kita mengingkari dan
                      tidak punya rasa terima kasih dan memanfaatkan potensi yang dianugerahkan Allah Swt
                      maka azab-Nya sanat pedih.

PERSAHABATAN KUCING DAN TIKUS postheadericon

     Dahulu kala, kucing dan tikus adalah sahabat sejati. Mereka hidup dalam satu rumah. Kemanapun kucing pergi maka si tikus ikut menemaninya.Begitu pula bila si tikus berjalan-jalan maka si kucing selalu mengikutinya. Si kucing menjadi pelindung si tikus yang memang bertubuh kecil. Setiap ada hewan yang berusaha mencederai si tikus maka si kucing yang pertama kali membelanya. Apapun kesalahan yang dilakukan si tikus terhadap teman-temannya namun si kucing tetap membelanya. Bahkan sebagai tanda eratnya persahabatan mereka si kucing memberi julukan si tikus dengan namanya   yaitu SI MEONG                                            dan si kucing diberi nama SI MOUSE disingkat SI PUS.
       Tidak hanya dalam pergaulan mereka selalu bersama-sama. bahkan dalam hal pembagian makanan mereka senantiasa membagi sama rata sebelum dimakan bersama-sama. Hal ini sesuai dengan perjanjian yang telah mereka sepakati bersama ketika mereka memutuskan untuk bersahabat. 
       Suatu malam, si tikus merasa perutnya lapar. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun si tikus kecewa sebab si kucing ternyata telah tertidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan.Ia berjalan kemana saja tanpa tujuan. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.
       "Aduh, harus kemana lagi aku mencari makanan?" kata si tikus. "Hampir sepanjang jalan aku tidak menemukan sepotong makananpun....huu..huu..huu." Si tikus semakin bersedih. Perutnya makin terasa lapar. Namun ia tetap berusaha mencari makanan kemana saja.
        Tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan karena di perempatan jalan ia menemukan sepotong daging yang ukurannya cukup besar.
         "Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus. "Wah besar sekali ukurannya...bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih." Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging tersebut untuk dibawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh kegembiraan. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya. Sepanjang jalan ia membawa potongan daging sambil bernyanyi-nyanyi. Akhirnya, setelah sampai di depan rumah si tikus berteriak-teriak memanggil si kucing.
         "Hoiii....kucing...ayo kemari....ada kabar gembira untuk kita...!" teriak si tikus. "Hoii...bangun...ada kabar gembira, nih!"
        Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya. "Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan ini aku tidak pernah makan daging. Sekarang aku akan menikmati daging yang dibawa si tikus," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.
        "Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing kepada si tikus.
        "Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, kucing?" tanya si tikus.
        "Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging...dan daging itu juga untuk aku khan?"
        "Iya...kan perjanjian kita seperti itu...apapun makanan yang kita dapat harus kita bagi rata...benar, khan?" kata si tikus.
         "Iya  ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar yang dibawa si tikus. "Okey kalau begitu mari kita bagi sama rata ya...ayo berikan daging itu, Tikus...biar aku yang bertugas membaginya."
         Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing untuk dibagi sama rata. Dan si kucing lalu mengambil pisau dan berusaha memotong daging di hadapannya sama rata. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.
        "Wah...ternyata daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong, nih agar bagian kita sama besar." Kemudian si kucing memotong sedikit daging milik si tikus agar potongan daging di tikus sama besar dengan potongan daging si kucing. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang telah dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya agar ukurannya sama dengan milik si tikus, namun sisa potongan daging itu langsung dimakannya.
        "Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, sabar ya saya potong dulu dagingnya agar ukurannya sama besar" kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disamakan dengan ukuran daging milik si tikus. Dan kali ini si kucing berbuat curang lagi. Sisa potongan daging langsung dimakannya juga. Berkali-kali si kucing berbuat begitu di hadapan si tikus. Akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing makin bertambah kecil karena dipotong-potong oleh si kucing. Si kucing ternyata telah berbuat curang terhadap si tikus. Si tikus menyadari bahwa temannya telah berbuat curang kepadanya. Ia diam saja sambil menyusun siasat agar si kucing menghentikan perbuatannya.
         Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit ke potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing keluar.
       "Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing. "Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku kelihatannya tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..." Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
       "Wuaahhh aduh...oooo...aaaa...oooo...aaaa....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini?  Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......" demikian teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya terasa panas akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
       "Hahahahahaha....itulah hukuman bagi sang curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak dan membawa lari sisa potongan daging yang telah berukuran kecil akibat dipotong-potong oleh si kucing. Namun ia tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang telah ditemukannya.  Kini ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar perjanjian dan telah mencuranginya.
        Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus. Ia terus berlari kesana kemari namun rasa panas  di mulutnya masih belum hilang juga.
       "Awas kamu si tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu bila aku berhasil menemukanmu.! Aku berjanji akan selalu mencarimu.
       Dan akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing. Si tikus takut menemui si kucing karena si kucing akan membuat perhitungan dengannya. Dan setiap hari, kemanapun si kucing mencari si tikus senantiasa memanggil-manggilnya dengan teriakan : "MEONG....MEONG...MEONG...MEONG..."


Tamat

Sumenep, 30 Januari 2013

KISAH SI BEBEK DAN BURUNG HANTU postheadericon

Gambar : agus karianto


           Dahulu kala, hidup di kerajaan binatang terasa damai. Seluruh hewan saling sayang menyayangi. Hewan yang tua menyayangi yang muda, sedang hewan yang muda menghormati yang tua. Bahkan mereka suka hidup bergotong royong dalam melakukan setiap pekerjaan. Siapapun yang mendapat kesulitan dalam melakukan sesuatu pekerjaan maka hewan yang lain serentak beramai-ramai membantunya. Sehingga semua pekerjaan yang ringan akan cepat terselesaikan dan pekerjaan yang berat akan terasa ringan karena mereka mengerjakannya bersama-sama. Mereka melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih apapun.
           Namun, akhir-akhir ini, kehidupan di kerajaan binatang terasa jauh berbeda. Antara hewan yang satu saling curiga mencurigai. Hewan-hewan tua enggan menyayangi yang muda, dan sebaliknya hewan-hewan muda sudah tidak menaruh hormat pada hewan tua. Hewan-hewan muda semakin berani bertindak tidak sopan kepada hewan-hewan tua. Rasa kegotong royongan dalam melakukan pekerjaan sudah mereka tinggalkan. Mereka lebih senang hidup menyendiri. Bila ada hewan yang kesulitan melakukan pekerjaan maka tidak ada seekor hewanpun yang ikhlas membantunya. Mereka lebih senang menjadi penonton saja terhadap kesulitan teman-temannya. Kehidupan di kerajaan semakin jauh dari rasa aman dan tenteram.
           Perubahan kehidupan yang jauh dari rasa nyaman di kerajaan binatang itu diakibatkan ulah Si Bebek yang jago gosip. Tiap hari si bebek selalu menyebarkan gosip dimana-mana. Seluruh hewan senantiasa menjadi bahan gosipnya. Sehingga antara hewan satu dan hewan lain terjadi salah faham bahkan tidak jarang terjadi perkelahian. Bila antara hewan satu dan hewan lain terlibat adu mulut dan akhirnya berkelahi maka si Bebek menjauhi mereka. Si bebek takut dikeroyok hewan-hewan karena akibat ulahnya mereka sampai berkelahi. Bahkan terkadang si bebek saling mengadu domba antara hewan satu dengan lain. Hewan-hewan tua berusaha diadu dengan hewan-hewan muda. Begitupun sebaliknya.
           Si burung hantu merasa resah dengan perubahan kehidupan di kerajaan binatang yang semakin tidak ada aturan. Dia tahu bahwa penyebab semua ini adalah akibat ulah si Bebek. Kemudian Si Burung memikirkan suatu cara bagaimana caranya memberi pelajaran kepada si bebek. Dia ingin menghentikan tingkah polah si bebek yang semakin menjadi-jadi.
          "Kalau ulah si Bebek tidak dihentikan, maka kehidupan di kerajaan binatang akan semakin amburadul," pikir si burung Hantu. Si burung hantu tahu bahwa setiap malam si bebek selalu tidur di bawah pohon tidak jauh dari rumahnya. Oleh karena itu,  menjelang gelap si burung hantu sudah bertengger di dahan pohon dimana di bawahnya tenpat si bebek tidur. Dan tidak berapa lama nampaklah si bebek pulang. Lalu si burung hantu berusaha mendekatinya.
         "Selamat malam, bebek," sapa burung hantu.
         "Hhohoho...selamat malam. Hei, kau rupanya si mata SIONG," jawab si bebek mengejek.
         "Wah kamu menghina aku, ya! Apa itu si mata SIONG?" tanya si burung hantu tidak mengerti.
         "Hehehehehe...si mata SIONG! Kalau siang matanya sipit kalau malam matanya plolong! Hahahaha..."
         "Memang keterlaluan kamu, bebek," kata burung hantu. "Semua teman-temanku pasti kau hina, kau fitnah, kau adu domba seperti itu. Pantas mereka saling curiga antara satu dengan yang lain."
         "Ya salah mereka! Kenapa mereka bodoh sehingga bisa saling berkelahi. "
         "Jangan begitu, bebek! Mereka juga teman-temanmu, jadi kamu harus melindungi mereka..."
         "Apa? Melindungi hewan-hewan yang tidak cerdas seperti mereka? Puih...tidak mau ya. Bahkan mereka pantas menerima hadiah akibat kebodohannya."
         "Hei, bebek! Tidak pantas kau berkata seperti itu! Sekali lagi aku peringatkan agar kamu jangan melakukan hal-hal tercela kepada teman-temanku. Kalau tidak mau....maka.....kamu akan mendapat celaka akibat ulahmu sendiri"
         "Memangnya ada apa dengan kamu ini? Sok usil ngurusi urusan teman! Kamu jangan mencoba-coba mengancam aku, ya Burung Hantu! Atau kamu menantang berkelahi dengan aku ya!?" bentak si  bebek.
         Si burung hantu tidak menjawab tantangan si bebek. Sebaliknya ia berusaha memanggil semua hewan agar mengetahui bahwa selama ini mereka telah mendapat fitnahan dan adu domba si bebek. Di hadapan si bebek dan burung hantu yang sedang berdebat, semua hewan hanya saling pandang sesama mereka. Ada rasa penyesalan di antara mereka. Ada rasa bersalah di antara mereka. Selama ini sikap mereka berubah akibat ulah si bebek. Ternyata si bebek telah menfitnah mereka, telah mengadu domba. Mereka merasa geram dan marah terhadap ulah si bebek. Mereka mau mengambil tindakan dengan mengeroyok beramai-ramai namun niat mereka dicegah si burung hantu.
         "Sabar kawan-kawan. Jangan main hakim sendiri. Biarlah si bebek yang mengeluarkan pendapatnya," seru si burung hantu meredam niat seluruh hewan yang mau mengeroyok si bebek.
         "Aku tidak terima apabila mendapat tuduhan seperti ini," kata si bebek. "Sebenarnya tujuanku baik. Aku ingin kalian tidak bodoh lagi...aku ingin kalian bersatu....aku ingin....,"
         Duuuuuuukkkkk....tiba-tiba ada sebongkah batu besar menimpa mulut si bebek. Entah siapa yang telah melemparkannya. Namun dilihat dari arahnya, tentu si burung hantu yang telah melemparkannya.
         "Aduuuhhhh...weekkk...wek..wek...wek!!!!" teriak si bebek kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dari himpitan batu yang menimpa mulutnya namun tidak bisa. Dia terus berusaha melepaskan diri dan akhirnya setelah menarik mulutnya kuat-kuat ia terbebas dari himpitan batu. Namun si bebek kembali berteriak dan merasa menyesal karena batu besar yang menghimpit mulutnya tadi ternyata membuat mulutnya menjadi pipih dan sulit menjadi bentuk semula. Si bebek kini sulit untuk berkata-kata lagi, karena setiap berkata-kata dari mulutnya hanya keluar bunyi : Wek..wek..wekk..wekk. Dan sejak saat itu, si bebek tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa memfitnah teman-temannya lagi. Dia tidak bisa mengadu domba seluruh teman-temannya lagi. Akhirnya ia hanya bisa  menyesal dalam hati dan sambil kedua matanya berlinang air mata ia pergi menjauhi teman-temannya karena malu atas perbuatannya selama ini.
         "Itulah akibat kesombongan dan mulut yang senantiasa bergosip, memfitnah, dan mengadu domba teman. Pasti akan mendapat balasan sesuai perbuatannya," kata si Burung hantu. Dan seluruh hewan bersorak sorai tanda gembira. Mereka sadar bahwa sikap mereka selama ini salah akibat fitnahan dan adu domba si bebek. Akhirnya mulai saat itu mereka bersatu lagi. Hidup mereka menjadi nyaman dan tenteram.


selesai

sumenep, 12-12-2012

moral cerita :   tukang fitnah dan tukang adu domba biasanya berakibat fatal terhadap dirinya sendiri.

KISAH SI SEMUT DAN RAJA LALAT postheadericon

foto : agus karianto


          Sejak si lalat dinobatkan menjadi sang Raja, maka kehidupan di kerajaan binatang menjadi semakin amburadul. Banyak peraturan yang tidak terpakai. Kelompok lalat sering bikin ulah. Mereka bertindak semaunya sendiri. Mereka beranggapan bahwa raja mereka tidak akan menghukumnya apabila mereka berbuat salah. Sifat lalat yang jorok membuat kerajaan binatang semakin kotor dan kumuh. Banyak sampah berserakan tidak dibuang pada tempatnya.
          Akibat sifat jorok si lalat, membuat banyak semut-semut merasa terganggu. Karena, sejak si Lalat dinobatkan menjadi raja, banyak semut yang sering terjangkit sakit perut. Hampir setiap hari ada saja sekelompok semut yang menderita sakit perut. Dan setelah diamat-amati, ternyata semua ini akibat ulah para lalat yang jorok. Sebab setiap kali para lalat-lalat berpesta pora, mereka terbang ke sana kemari, hinggap di tempat-tempat jorok, setelah itu mereka menghinggapi juga di potongan-potongan makanan yang akan dikumpulkan para semut. Ketika para semut membawa makanan tersebut ke rumah untuk dimakan bersama keluarga maka sehabis makan mereka merasakan perutnya sakit. Sebenarnya sekelompok semut pernah protes kepada sang Raja Lalat, namun tidak ada tanggapan. Bahkan ulah para lalat semakin menjadi-jadi. Dan sang Raja Lalat tidak bisa berbuat banyak.
         "Wahh, gara-gara si lalat jorok yang menghinggapi makanan kita, akhirnya kita jadi sakit perut, nih," kata para semut.
         "Iya, betul...aku kemarin melihat sendiri, di kaki para lalat banyak sekali kotoran saat hinggap di makanan kita, hal inilah yang membuat kita sakit perut" seru semut yang lain.
        "Kita tidak boleh tinggal diam....kita harus mengambil tindakan!Kita protes juga tidak ada tindakan dari sang raja!!"
        "Iya....iyaaaa....kita harus bertindak..."
        "Benar semua semut harus bersatu untuk melawan kecerobohan sang Raja...kita harus melawan kesewenang-wenangan ini....kita harus menaklukkan sang Raja."
        "Setuju...kita harus memberi pelajaran si Raja Lalat yang ceroboh melindungi kelompoknya yang sok kuasa..."
         Oleh karena itu, para semut berkumpul untuk menyusun strategi melawan sang Raja Lalat. Ada yang mengusulkan dipukul beramai-ramai. Ada yang mengusulkan makanan sang Raja dilumuri kotoran agar dia ikut merasakan bagaimana rasanya sakit perut. Dan berbagai usulan yang lain.
        "Kita harus berhati-hati menghadapi sang Raja, sebab dia memiliki sayap. Kalau dia tahu bahwa kita akan memukulnya atau mencelakainya maka dia bisa saja terbang dan kita tidak bisa mengejarnya. Bukankah kita tidak memiliki sayap," kata salah seekor semut kepada teman-temannya. Dan seluruh semut menyadari akan kelemahan mereka yang tidak memiliki sayap.
       "Lalu bagaimana kita bisa mengalahkannya?"
       "Begini, kawan! Untuk menghadapi si Raja Lalat kita harus benar-benar bersatu dan saling bekerjasama. Tidak boleh ada semut yang tidak berperan serta. Untuk berkelahi dengan dia, jelas kita tidak punya kekuatan. Nah, saatnya kita gunakan taktik jebakan saja."
       "Maksud jebakan itu apa, kawan?"
       "Begini, kita akan melawan si Raja dengan melakukan jebakan.Kita akan menjebak dengan cara memanfaatkan kebiasaan jelek yang biasa dia lakukan terhadap kita. Caranya yaitu pertama-tama kita harus dibagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang membuat lem, ada kelompok yang membuat makanan, ada kelompok yang memancing si Raja Lalat masuk ke dalam jebakan kita. Dan ada kelompok yang membekuk Raja lalat saat dia takluk ke dalam jebakan kita. Bagaimana, kalian siap bersatu melawan Raja Lalat !?"
        "Siaaaappppp....siiiaaaapppp....kita bersatuuuu.....melawan Raja Lalat!!!"
        Maka malam itu para semut mulai bekerja sesuai tugas masing-masing. Tidak ada kegaduhan selama mereka melakukan tugasnya, sebab mereka khawatir sang Raja Lalat mengetahui rencana mereka.
         Dan pagi hari sebelum matahari muncul, mereka telah selesai mempersiapkan jebakannya. Sebuah makanan yang berbau harum namun seluruh permukaannya telah dilumuri lem perekat telah mereka letakkan di tengah halaman. Para semut berharap agar saat si Raja lalat dan teman-temannya menghinggapinya maka para lalat tidak bisa melarikan diri.
       "Oke...semua siap pada posisi masing-masing...sebentar lali si lalat akan keluar rumah," teriak pemimpin semut. Dan para semut bersiap-siap pada tempatnya masing-masing.
        Tidak berapa lama, nampak si Raja lalat keluar rumah. Ia merasa tertarik pada bau makanan yang sampai pada rumahnya. Spontan ia terbang mencari asal makanan tersebut.
        "Wuahhhh....ada makanan lezzzaaatttt," teriak si Raja Lalat kegirangan. Oleh karena itu segera ia mempercepat terbang menuju makanan tersebut dan secepatnya menghinggapinya. Namun....
        Trrraaaaapppppp....trraaaapppp....traaaapppp...traaappppp
        "Ouugghhhhh......kakiku kok lengket ke makanan? Tolong...tolooonngg..'" teriak si Raja Lalat sambil meronta ronta karena kakinya terperangkap jebakan lem para semut. Dan seketika itu juga seluruh semut keluar dari persembunyiannya untuk menangkap Raja Lalat beramai-ramai.
        "Horeeeee......horeeee....kita berhasil...kita berhasil.....!"
        "Tolooonnngg....aku jangan dilukai, teman-teman! Apa salahku sehingga kalian menjebakku seperti ini? Tolong lepaskan aku, teman-teman" seru Raja Lalat.
        "Hahahahaha...enak saja minta dilepaskan. Biar saja kamu merasakan akibat ketidak adilan dan akibat kecerobohanmu memimpin kami."
        Si Raja Lalat pura-pura tidak mengerti. Ia terus minta tolong untuk segera dilepaskan. Namun para semut segera mengurungnya. Para semut memegangi tubuh Raja Lalat dari segala penjuru tubuhnya sehingga lalat tidak bisa bergerak.
        "Hai, coba jelaskan kesalahanku sehingga aku kau perlakukan seperti ini, kawan!" teriak Raja Lalat.
        "Hehehe..."
        "Sungguh, aku tidak mengerti, kawan! Kalau saja teman-temanku tahu bahwa aku kau tawan tentu mereka akan segera menyerang kamu. Ayo coba jelaskan biar aku punya alasan membela kalian," seru Raja Lalat.
         "Benar juga kata Raja Semut," pikir pimpinan para semut. "Kalau para lalat sampai tahu bahwa pimpinannya tersandera tentu mereka akan menyerang mereka."
Akhirnya, pimpinan semut secepatnya menerangkan kesalahan si Raja Lalat dan segera meminta memerintahkan para lalat agar tidak mengganggu para semut. Pimpinan semut memohon Raja Lalat agar memerintahkan para lalat untuk tidak melumuri dengan kotoran pada setiap makanan yang telah semut-semut temukan dimanapun berada.
        "Oooo jadi hanya itu saja tho permintaan kalian. Jangan khawatir, aku akan segera melaksanakan perjanjian ini," kata si Raja Lalat.
         "Awas...kamu sudah berjanji lho ya, Raja Lalat!" kata pimpinan semut. "Kalau sampai engkau melanggar janjimu maka aku tidak segan-segan mengerahkan seluruh semut di dunia untuk melawan kamu!"
         "Iya...aku janji."
          Kemudian, semut-semut segera membersihkan perekat yang ada di tubuh Raja Lalat.
         "Terima kasih, kawan....terima kasih....tapi aku tidak berjanji memberitahu lalat-lalat di daerah lain khan." kata Raja Lalat sambil terbang meninggalkan para semut. "Kalau ada lalat di tempat lain yang masih mengganggumu itu artinya bukan tanggung jawabku lagi! Kalian bertanggung jawab sendiri terhadap makananmu"
         Para semut hanya bisa saling pandang di antara mereka. Ternyata si Raja Lalat hanya akan memberitahu para lalat di sekitar kerajaan saja. Bila ada lalat di daerah lain yang masih mengganggu mereka maka itu menjadi tanggung jawab para semut untuk mengusirnya.
        Oleh karena itu, sejak saat itu para lalat tidak berani mengganggu setiap makanan yang ditemukan dan dibawa para semut. Lalat-lalat lebih memilih hinggap di makanan yang masih bersih milik manusia. Dan sejak saat itu, setiap ada semut yang menemukan makanan maka mereka selalu membawanya beramai-ramai agar para lalat tidak berani mengganggunya. Selain itu, setiap semut yang menemukan makanan selalu secepatnya dibawa ke dalam sarangnya agar tidak dihinggapi lalat.


selesai


sumenep, 30 Nopember 2012


Moral cerita : Berhati-hatilah menaruh makanan agar tidak dihinggapi lalat.



AYAM KAMPUNG SANG JUARA postheadericon

 
Gambar : agus karianto


              Malam itu, di kandang ayam suasananya begitu ramai. Seluruh ayam mondar-mandir ke sana kemari sambil membawa sesuatu. Ada yang membawa kapas. Ada yang membawa obat luka. Bahkan ada yang membawa perban. Sebagian ayam meracik obat herbal berupa daun-daunan untuk obat luka. Memang saat itu, mereka sedang merawat Pak Jago yang terluka parah akibat kalah bertarung dengan Jago petarung yang kebetulan singgah di kampung mereka.
              Memang sudah hampir seminggu Jago Petarung ada di kampung mereka. Setiap hari, ia selalu berkeliling kampung. Setiap bertemu ayam jago, ia selalu menantangnya bertarung. Dan selama ini tidak ada seekor ayam jagopun yang bisa menandingi keperkasaannya. Ayam jago petarung selalu menjadi pemenangnya. Tubuh Ayam Jago petarung memang terkenal perkasa. Kedua taji yang panjang dan runcing di kakinya menjadi senjata andalannya. Banyak ayam jago yang terluka berat bila terkena taji-tajinya. Sampai akhirnya, Pak jago yang amat disegani di kalangan ayam jago kampung kini menjadi korbannya.
Sebenarnya, Pak Jago hanya ingin melindungi temannya yang ditantang Jago Petarung untuk berkelahi. Teman Pak Jago bertubuh kecil dan lemah, kalau sampai bertarung dengan si Jago Petarung tentu akan menjadi bulan-bulanan saja tubuhnya. Oleh karena itu, Pak Jago yang berusaha menggantikannya. Dan, akhirnya Pak Jago yang kalah dan luka berat.
              "Maaf, Pak Jago," kata teman Pak Jago yang telah dilindunginya. "Akibat menggantikan posisi saya akhirnya Bapak yang terluka berat."
             "Ahhhh...nggak apa-apa, teman. Tapi kamu tidak diajak berkelahi lagi dengannya, Khan?" jawab Pak jago sambil tiduran karena tubuhnya luka semua kena taji si Jago Petarung. Dan kini dia sedang diobati teman-temannya.
             "Eemm...sudah tidak pernah, Pak. Tapi...si Jago Petarung sekarang makin sombong saja, Pak!"
             "Lhoo..lho..lhoo..kok bisa begitu?"
             "Iya, Pak. Sejak dia bisa mengalahkan bapak dan kini sudah tidak ada ayam jago yang bisa diajak berkelahi lagi. Kini dia semakin besar kepala. Sikapnya sombong. Angkuh. Seolah-olah dialah sang jagoan di kampung kita. Padahal aku belum pernah berhadapan dengannya. Aku belum pernah bertarung dengannya"
             "Eittttssss.....jangan bertindak ceroboh, teman," kata Pak Jago. 
             "Ceroboh bagaimana, Pak!"
             "Tubuhmu kecil dan lemah. Mana mungkin bisa mengalahkan dia?"
             "Benar kata Bapak. Tubuhku kecil dan lemah. Sebenarnya kemarin aku mau meladeni ajakannya, tapi rupanya Bapak melarangku. Dan bapak akhirnya yang menjadi korbannya. Saya kasihan melihat pengorbanan bapak. Aku harus menghentikan kesombongan dan keangkuhannya, Pak."
             "Tapi.....aku meragukan kemampuanmu, Kawan." kata Pak Jago ragu akan kemampuan temannya.
             "Tenang saja, Pak. Kalau kita kompak maka kita dapat mengalahkan Jago Petarung. Aku hanya butuh dukungan teman-teman. Aku hanya butuh tempat latihan untuk kuat terbang. Itu saja, Pak."
             Dan, semua keluarga Pak Jago ikut setuju dengan rencana teman Pak Jago. Maka sejak saat itu, semua ayam ikut membantu menyusun rencana untuk melatih fisik temannya. Setiap hari, teman pak jago harus berlari mengitari pematang sawah belakang rumah Pak Jago sebanyak dua puluh lima kali. Setelah itu, teman pak jago harus bisa mengepakkan sayapnya kuat-kuat agar bisa terbang dan hinggap di atas atap rumahnya. Setelah semua latihan selesai, maka dia harus minum jamu penguat tubuh untuk memulihkan tenaganya. Demikian, latihan itu dilakukan berhari-hari.
             Sore itu, seperti biasanya teman Pak jago sedang berlari mengelilingi pematang sawah. Namun, dia tidak sadar bahwa si Jago Petarung memperhatikannya dari kejauhan. Si Jago Petarung tertawa terbahak-bahak melihat cara latihan teman Pak Jago yang dulu pernah diselamatkan dari cengkeramannya.
"OOoooo rupanya dia sedang latihan menghadapi aku, ya." kata Jago Petarung dalam hati. "Hihihihihi....mana mungkin dengan tubuh sekecil itu bisa menghadapi aku. Cissss!" katanya sambil berusaha mendekatinya.
           "Hoiiiiii......sedang apa kamu, heh?!" bentak di Jago Petarung.
           Teman Pak Jago terkejut mendengar bentakan Jago Petarung. Ia menghentikan latihannya. Ia kini mulai berhadapan dengannya. Memang terjadi perbedaan menyolok antara tubuh jago Petarung yang gagah, tinggi besar dengan teman Pak jago yang mungil tapi lincah.
           "Kau mau menantang aku, ya? Ayo kalau berani kita bertarung!" lanjut Jago Petarung.
           "Enggg....siapa takut," jawab teman Pak Jago sambil mulai mengambil kuda-kuda.
           "Hihihihihihi.....lucuuuu! Si kecil mungil mau menghadapiku? Kau cari mampus, ya."
           "Kau jangan sombong dan takabur begitu! Bisa-bisa akibat kesombongan dan ketakaburanmu itu bisa berakibat fatal terhadap dirimu sendiri."
           "Cissss ! Jangan menceramahi aku. Aku tebas lehermu dengan kedua tajiku pasti kamu akan mampus." kata di Jago Petarung sambil meloncat ingin melukai tubuh teman Pak jago dengan tajinya. Namun, teman pak jago secepat kilat menghindarinya. Tubuhnya selamat. Si Jago Petarung marah karena terkamannya berhadil dihindari lawan. Ia mencoba sekali lagi menggempur tubuh lawannya. Namun, berkali-kali teman pak jago berhasil menghindarinya. Si Jago petarung makin marah dan emosi. Ia kini tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia terus mengejar musuhnya kemanapun menghindar sambil mengarahkan kedua tajinya ke tubuh lawan. Tapi, untuk kesekian kalinya lawannya berhasil lolos dari sergapannya.
            Tiba-tiba teman Pak Jago lari menjauh. Dan, si Jago Petarung mengejarnya.
            "Hoiiii mau lari kemana kamu," bentak Jago Petarung. "Jangan melarikan diri...ayo hadapi aku."
            Rupa-rupanya teman Pak jago bukan melarikan diri. Namun, ia sengaja mencari tempat berkelahi yang tanahnya agak berair dan lembek.
           "Ayolah Jago Petarung kalau kamu berani kita bertarung di sini," demikian tantang teman Pak jago.
           SI jago petarung semakin emosi. Ia meloncat ke sawah yang tanahnya berair dan lembek. Tetapi, rupanya ia tidak sadar bahwa ketika kedua kakinya berdiri di sana, tiba-tiba kedua kakinya masuk ke dalam tanah. Dan ia sulit bergerak dengan lincah. Ia sulit mengendalikan tubuhnya. Tubuhnya semakin berat saat ingin melompat dan mengarahkan tajinya ke tubuh lawan. Tanah yang berair dan lembek itulah yang mengakibatkan kakinya kurang bebas bergerak. Dan hal ini tidak disia-siakan oleh teman pak jago. Secepat kilat tubuhnya melayang dan menyerang di Jago Petarung. Lalu, ia mencakar kedua mata si Jago Petarung. Si Jago petarung terkejut dan mengaduh kesakitan.
          "Aduuhhhh....mataku.....aduuuhhhhh mataku sakiiitttt....mataku sakiiittt....ampuuunnnn," rintih Jago Petarung.
Dan sekali lagi teman Pak jago mengarahkan pukulannya tepat mengenai kedua kaki Jago Petarung. Si Jago Petarung makin meraung-raung kesakitan karena tulang kakinya terluka parah. Dan akhirnya tubuhnya roboh tidak berdaya.
          "Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.........horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.....horeeeeeeeeeeee..." teriak ayam-ayam lain yang sejak tadi melihat perkelahian dari rumah Pak Jago. Dan Pak Jago bangga dengan kemenangan yang diraih temannya. Ternyata dengan latihan yang tekun dan disiplin kita bisa mengalahkan lawan yang menurut kita sulit untuk ditaklukkan.


selesai

sumenep, 5 nopember 2012

moral cerita : Jangan meremehkan potensi diri anda sendiri. Karena dengan kedisiplinan dan ketekunan
                     melakukan sesuatu maka anda akan bisa menghadapi tantangan sebesar apapun di
                     hadapan anda.


KISAH CICAK DAN BUAYA postheadericon

gambar : agus karianto






             Pada suatu hari, ada seekor cicak yang hidup bertetangga dengan buaya. Si cicak punya kebiasaan jelek. Setiap hari dia senantiasa tidak pernah mensyukuri rezeki yang didapatnya. Kalau dia memperoleh rejeki yang besar tentu menggerutu, apalagi saat mendapatkan rejeki yang sedikit dia selalu marah-marah. Cacian dan sumpah serapah selalu keluar dari mulutnya. Terkadang ia menyalahkan Tuhan karena diberi tubuh yang kecil. Apalagi kakinya diberi perekat, sehingga ia tidak bebas berjalan seperti teman-temannya. Akibatnya, dia hanya bisa berjalan merayap di tembok-tembok dan kesulitan mencari makanan.
            Malam itu, ia pergi mencari makanan. Namun, sejak sore hingga tengah malam  ia tidak mendapatkan makanan sepotongpun. Ia terus berkeliling ke setiap sudut tembok, namun sia-sia. Tidak ada sepotong makananpun yang dijumpainya.
            "Sialan," ia mulai menggerutu dalam hati. "Beginilah kalau kakiku dipenuhi  perekat. Aku kesulitan mencari makan. Uuuuhhhh......dasar!"
           Tidak jauh dari tempat si cicak ada seekor buaya yang sejak tadi memperhatikannya. Si buaya tersenyum  melihat si cicak selalu menyesali nasibnya. "Tidak seharusnya dia bersikap begitu. Tuhan tidak pernah salah design. Tuhan menciptakan makhluk-Nya tentu sudah disesuaikan dengan cara mendapatkan makanannya. ," pikir si buaya dalam hati.

           "Hei, cicak...kenapa kamu selalu ngedumel begitu?" tanya si buaya. "Setiap hari tiada henti-hentinya kamu menyesali nasibmu. Kamu sama sekali tidak pernah bersyukur kepada Tuhan."
            Si cicak tidak menjawab pertanyaan buaya.  Sebaliknya, kedua matanya menatap tajam ke sekeranjang makanan yang ada di hadapan buaya. Air liurnya keluar membayangkan kesegaran makanan-makanan itu. Kemudian ia mencoba mendekati si buaya, lalu mencoba merayu buaya untuk memberi sedikit makanan yang ada di depannya.
           "Wuah...makananmu banyak sekali, buaya," kata cicak. "Bagi-bagi dong...aku lagi kelaparan, nih."
           "Hah...kamu minta makanan ini," jawab buaya. "Nggak boleh yaaa! Makanan ini bukan milikku. Aku hanya disuruh menjaga saja. Aku tidak berhak memberikan pada siapapun. Aku takut melanggar janji. Aku takut dianggap berkhianat. Aku takut dosa, kawan," kata si buaya memberi alasan                                                                                                                                                              "Yaa...minta sedikit saja tidak boleh! Aku kelaparan, nih. Bukankah membantu teman yang lagi kelaparan akan mendapat pahala. Ayo dong aku diberi sedikit saja makanan di depanmu itu," demikian rayu si cecak.
          "Waaahhh ya nggak bisa begitu, Cak! Amanah tetap amanah. Kalau tidak boleh ya tidak boleh. Apapun alasannya. Kamu jangan membuat aku melakukan perbuatan dosa, ya."
          "Lhoooo...menolong teman yang sedang kelaparan kok dikatakan berbuat dosa ," kata Cicak terus merayu.
          "Tapi makanan ini bukan milikku, Cak! Aku dilarang memberikannya pada siapapun. Apapun alasannya. Itu saja. Jadi aku takut melanggar sumpah. Apakah kamu tidak mengerti juga?"
          Si cicak semakin sewot. Seluruh rayuannya tidak bisa mengubah pendirian buaya. Ia masih mencari cara lain agar si buaya mau memberikan makanan yang dijaganya.
          "hehehehe...aku kagum terhadap sikap amanahmu, kawan," kata cecak. "Aku harus belajar banyak kepadamu agar bisa menjadi makhluk yang punya sikap amanah sepertimu. Tapi apakah kamu mau mengajariku, kawan?"
          "Heemmmmm," si buaya mulai curiga terhadap perubahan sikap si cicak.
          "Benar, buaya. Aku ingin belajar darimu. Aku ingin punya pendirian kuat sepertimu. Aku ingin merobah sikapku yang salah. Aku ingin bisa punya sikap amanah sepertimu. Aku ingin berubah, kawan."
          Rupanya si Buaya mulai luluh hatinya. Ia mulai merasa iba terhadap nasib si cecak. Ia percaya dan  berpikir positif terhadap perubahan sikap si cecak. Oleh karena itu, ia menyatakan bersedia mengajari si cecak.
          "Terima kasih, buaya. Terima kasih....ayo kita praktekkan sekarang saja yaaa.," kata si cicak kegirangan.
           Si buaya terkejut mendengar kegembiraan si cecak dan ingin langsung mempraktekkan saat itu juga.
          "Hah....mempraktekkanya sekarang?," kata si buaya keheranan. "Kok secepat itu kamu ingin belajar dariku?"
          "Ya iyalah...khan aku kepingin secepatnya merobah sikap. Kalau ditunda-tunda nanti aku bisa berobah pikiran." kata si cicak.
           Si buaya berpikir, kalau si cecak berubah pikiran tentu ia tidak bisa lagi merobah sikap jeleknya. Nah, mumpung ia bersemangat mau belajar maka ia menyetujui saja saran si cecak.
          "Baiklah kalau begitu," kata buaya. "Kita mulai belajar darimana, kawan?"
          Si cecak tertawa senang. Ia sebenarnya pura-pura belajar merobah sikap. Tujuan sebenarnya adalah ingin menguasai makanan yang dijaga si buaya. Dan ternyata akal liciknya mulai menemui keberhasilan. Kemudian, ia menyarankan agar belajar menjaga makanan yang ada dihadapan buaya.
         "Begini, Buaya. Aku ingin belajar punya sikap amanah dengan menjaga makanan itu. Kamu bisa mengawasiku dari jauh. Bukankah kamu sudah lama menjaganya. Nah, sekarang kamu bisa istirahat. Biarlah makanan-makanan ini aku yang menjaganya."
          Sebenarnya ada sedikit keraguan di hati si buaya. Sebab dia harus pergi meninggalkan makanan yang ia jaga. Namun, ia berpikir bahwa tidak mungkin si cicak berbohong padanya. Ia hanyalah hewan kecil. Kalau sampai berani berbohong maka si cecak akan dipukul dengan ekornya sampai tewas.
         "Tapi ada satu permintaanku, Cicak." kata si buaya. " Bila sewaktu-waktu pemiliknya datang maka kamu harus berpura-pura menjadi aku lho...kamu harus memegang amanah. Jangan suka berdusta." lanjut si buaya sambil pergi meninggalkan si cicak untuk mengawasinya dari kejauhan.
         "Iyaaaa...iya... kawan," kata si cicak sambil berjalan ke keranjang makanan di depannya.
         Si cicak tertawa dalam hati karena dia berhasil mengelabui si buaya. Dia mulai merencanakan menghabiskan makanan di hadapannya. Namun, ia masih menunggu saat yang tepat bila si buaya sudah pergi tidur.
         Beberapa saat kemudian ketika si buaya benar-benar sudah tertidur, lalu si cecak cepat-cepat mendekati makanan yang dijaganya. Dia mulai memilih makanan yang terlezat untuk disantapnya. Namun, belum sampai ia berhasil melaksanakan niatnya, datanglah seekor singa mendekatinya.
Si singa berjalan sambil bernyanyi-nyanyi. "Hohoho...hihihi...hahahaha...huhuhuhuu...Pak Buaya aku datang...Pak buaya aku mau mengambil makananku," kata si singa.
        Si cicak nyalinya menjadi ciut melihat kedatangan si singa. "Hah ...pemilik makanan ini ternyata Pak Singa?" pikir si cecak ketakutan. Maka niat ingin menghabiskan makanan di hadapannya akhirnya batal. Dia kini menjadi ketakutan menghadapi si singa.Ia berniat mau melarikan diri, namun tubuhnya bergetar ketakutan. Ia berpikir kalau sampai si singa tahu bahwa bukan si buaya yang menjaga makanannya maka si singa akan marah besar. Dan ia ingat pesan si buaya bahwa bila pemiliknya datang sewaktu-waktu maka ia harus berpura-pura menjadi buaya.
          "Tapi tubuhku kecil," pikir si cecak. "Lalu bagaimana caranya agar aku bisa berpura-pura menjadi buaya dalam waktu sesingkat ini? Aduuuuhhhhh....gawat si singa semakin dekat saja." kata si cicak makin resah dan ketakutan atas kedatangan si singa.
           Si cicak semakin kebingungan. Dan tanpa pikir panjang ia segera minum air sungai di hadapannya sebanyak-banyaknya agar tubuhnya dapat membesar menyamai tubuh si buaya. Ia tidak memikirkan  akibatnya. Ia berusaha menyelamatkan diri dengan cara menyamai bentuk tubuh si buaya.
          Dan, rupanya usaha si cicak berhasil. Kini tubuhnya nampak membesar berisi air. Tubuhnya sekilas nampak seperti tubuh buaya. Tapi, akibat memaksakan diri minum air sebanyak-banyaknya membuat daya tahan tubuhnya mulai melemah. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dan tidak berapa lama tubuhnya mulai mengambang di permukaan air. Ia telah mati sebelum bisa menikmati makanan yang dijaganya.
          Sementara itu, si singa nampak senang melihat makanannya masih utuh.Tidak ada secuil makanan pun yang hilang. Dia bangga dengan sikap amanah si buaya dalam menjaga makanannya. Dia senang dengan kejujuran si buaya. Untuk itu, si singa memberikan hadiah beberapa buah kepada si buaya. Si buaya gembira menerima hadiahnya sambil terus memandangi tubuh si cicak yang semakin menjauh terbawa arus sungai.


selesai

sumenep, 3 nopember 2012

moral cerita : Memegang amanah adalah perbuatan yang mulia. Sedang kelicikan akan membawa petaka
                     kepada siapapun yang melakukannya.

PAK KANCIL PENUNGGU SERULING SAKTI postheadericon


              Siang itu, Pak Kancil berjalan-jalan berkeliling kampung. Memang sejak musim kemarau panjang ini ia lebih senang berada di luar rumahnya. Hujan yang belum turun membuat udara terasa panas. Namun, beda rasanya dengan udara yang ada di luar rumah terasa lebih sejuk. Apalagi bila berada di bawah pohon. Oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesa tumbuhan membuat badan terasa segar. Sehingga Pak kancil bisa betah berlama-lama berteduh di sana.
              Saat itu, seperti biasanya ia ingin berteduh di bawah pohon. Ia mencari pohon yang lebih rimbun dari pohon yang lainnya. Kali ini ia mencoba berjalan menuju pepohonan yang ada di samping hutan bambu.
            "Wah, disana pasti udaranya lebih sejuk," pikir Pak Kancil sambil terus mempercepat jalannya.
            Benar juga, ternyata tempat yang dituju Pak Kancil cukup rimbun. Apalagi hutan bambu yang ada di depannya sangat lebat sehingga membuat tempat di sekitarnya menjadi teduh.
            Sesampai di sana, kemudian Pak Kancil mencoba merebahkan diri dibawah pohon. Angin yang berhembus cukup kencang menambah sejuk udara di siang hari itu. Dan Pak Kancil mulai merasa kantuk.
Sesekali matanya terpejam, namun ketika angin berhembus kencang matanya kembali terbuka. Saat angin kencang berhembus terdengar bunyi mengaung keras yang ditimbulkan dari hutan bambu. Suaranya mirip orang lagi bersiul.
            Ketika Pak Kancil kembali tertidur, tiba-tiba datang angin yang cukup kencang. Pohon-pohon bergoyang. Dan pohon tempat Pak Kancil tiba-tiba patah....Kraaaaakkkkkkkk......
Pak kancil terbangun. Ia terkejut dan berusaha lari menjauh. Namun, kecepatan larinya kalah dengan kecepatan robohnya pohon yang menjadi tempat bernaungnya. Dan patahan pohon tersebut menjepit tubuh Pak. kancil. "Aduuuuuhhhh....sakit," teriak Pak Kancil. "Toloooonnggg....tooloooongggg....tolooonggg !"
Berkali-kali Pak kancil berteriak minta tolong, namun tidak ada temannya yang lewat di sana. Memang tempat berteduh Pak kancil ini jauh. Mungkin hanya beberapa temannya saja yang mengetahuinya.
Sambil menunggu bila ada temannya datang, Pak Kancil mencoba membebaskan diri dari himpitan pohon. Namun, usahanya selalu gagal. Tenaga Pak kancil semakin lemah. Apalagi ia belum makan siang juga.
Pak Kancil nyaris putus asa. Sesekali ia menangis menyesali diri. "Harusnya aku tidak berteduh di bawah pohon yang telah rapuh disaat musim angin kencang begini," keluh kesahnya. "Ya ini akibatnya kalau melanggar hukum alam. Pohon yang rapuh biasanya rawan roboh bila diterjang angin kencang. Ya, mau bagaimana lagi....sekarang aku harus minta bantuan teman-teman."
           "Toloooooooooonngggggg," teriak Pak Kancil sekeras-kerasnya. Dan rupanya teriakan ini bisa didengar seekor harimau yang berjalan di balik hutan bambu.Si harimau segera berlari mendekati Pak Kancil.Dia terkejut melihat Pak kancil nampak meringis kesakitan.
          "Hallo, kawan...memangnya kenapa kamu kok berteriak-teriak minta tolong?" tanya si Harimau.
          Pak Kancil merasa senang sebab ada temannya yang mengetahui keberadaannya. Namun, nyalinya kembali menciut manakala yang datang si Harimau. Bukankah dia adalah musuh bebuyutannya. Kalau saja si harimau tahu bahwa dirinya tidak berdaya tentu dia akan senang luar biasa. Dia akan dengan mudah melumat tubuh Pak Kancil. Oleh karena itu, Pak kancil berusaha mencari akal agar si harimau percaya terhadap omongannya.
          "Oooooo....si harimau ternyata yang pertama kali mendengar pengumumanku," kata Pak Kancil. "Wah beruntung sekali nasibmu, kawan."
          "Lho..lhoo...lhooo....pengumuman apa, Cil? Lalu, beruntung apanya? Bukankah kamu tadi berteriak minta tolong. Kamu kan tidak mengumumkan sesuatu?"
          "Hohohohoho...benar, Kawan. Dengan cara seperti itulah aku ingin menarik perhatianmu, sehingga kamu datang kemari"
           Si harimau semakin tidak mengerti arah pembicaraan Pak Kancil.
          "Memangnya beruntung seperti apa yang kamu maksudkan, Cil?"
          "Begini, kawan," kata Pak Kancil. "Sebenarnya sejak siang tadi aku berada di sini. Aku diperintah Sang raja untuk menunggu seruling Saksi yang disimpan di balik rerimbunan bambu. Aku tidak boleh meninggalkan sesaatpun tempat ini. Sebab nanti malam sang Raja akan mengambil seruling saktinya. Konon, dengan seruling sakti itu kita bisa mendatangkan seluruh makanan yang kita inginkan. Nah, sang raja takut kehilangan seruling saktinya, sehingga aku dipaksa menungguinya. Agar aku tidak bisa pergi, maka tubuhku dihimpit dengan pohon ini. Dan nanti aku akan dijadikan pengawal pribadi sang raja. Aku sebenarnya menolak. Aku merasa kurang pantas dijadikan pengawal pribadinya"
          "Tapi, aku tidak melihat seruling itu," kata si harimau.
          "Hei, ya tentu saja kamu tidak dapat melihatnya. Khan seruling itu seruling sakti. Nah, sebentar lagi kamu akan bisa mendengar suaranya bila angin mulai berhembus."
          Dan tidak berapa lama ketika angin berhembus cukup kencang terdengar suara dari hutan bambu.
          "Huuuuuuuuu.....tuiiiiiiiittttt.....tuiiiiittttt....ciiiiiitttt...huuuuu....tuiiiiiiiittttttt."
          Si Harimau mendengarkan suara sambil kepalanya manggut-manggut. "Oh...merdunya," gumamnya. Ia mulai terpengaruh cerita Pak Kancil.Ia mulai mempercayai cerita Pak Kancil.
          "Wah, benar kamu, Pak kancil," kata si Harimau. "Suara serulingnya sangat merdu dan melengking. Wah enak benar kamu akan dijadikan pengawal pribadi sang raja. Tentu di kerajaan makanannya enak-enak, yaaa."
          "Itulah, aku tidak suka menjadi pengawal raja. Tidak suka."
          Dan si harimau mulai berpikir bahwa memang si kancil kurang cocok apabila dijadikan pengawal raja. Selain tubuhnya kecil, tidak berwibawa dan tidak akan ditakuti anak  buah sang raja. Kini si harimau berniat ingin merebut kedudukan Pak Kancil. "Kalau sang raja mendapat pengawalanku, tentu tidak ada yang bisa bertindak macam-macam terhadap sang raja. Aku khan hewan yang paling ditakuti. Aku khan sang raja hutan," pikir si Harimau mulai timbul sikap sombong dan takaburnya.
         "Begini saja, Pak Kancil. Biar aku saja yang menjaga seruling sakti sang raja. Aku ingin menolongmu. Biar aku yang menggantikan kedudukanmu di situ. Bagaimana ?" tanya si Harimau.
         Mendengar ucapan si harimau membuat Pak kancil senang bukan kepalang. Rencananya berhasil. "Si harimau sombong dan gila hormat itu ternyata masih serakah ingin kedudukan yang lebih tinggi," pikir Pak Kancil. Kini si sombong itu akan menuai buah kesombongannya.
          "Aduuuhhh terima kasih, kawan. Memang kamu layak menjadi pengawal pribadi sang raja."
          "Lalu, bagaimana caranya aku bisa menggantikan kedudukanmu, Pak Kancil?"
          Kemudian, Pak Kancil mulai menyuruh si harimau agar menggeser pohon yang menghimpit tubuhnya terlebih dahulu. Karena tubuh si harimau sangat besar, maka hanya dengan sekali geser saja pohon yang menghimpit Pak kancil berhasil ia singkirkan. Setelah Pak Kancil berhasil membebaskan diri dari himpitan pohon, maka kini giliran si Harimau tidur terlentang. Dan Pak Kancil mengangkat pohon yang telah menghimpitnya untuk dihimpitkan ke tubuh si harimau.
          "Siap....,kawan....satuuuu...duuuaaa...tiiigaaa," teriak Pak Kancil sambil melemparkan pohon ke arah harimau. Bruuuukkkk....dan tubuh si harimau kini terhimpit pohon. "Aduuuuhhh....sakit, Pak Kancil," teriak si harimau.
          Si harimau berteriak-teriak kesakitan. Ia mencoba melepaskan diri dari himpitan pohon, Namun, usahanya selalu gagal. Ia berusaha menarik tubuh Pak Kancil. Tetapi Pak kancil sudah melompat menjauh meninggalkan tubuh si harimau sombong yang kini telah terhimpit pohon.
          "Hahahahaha....si harimau sombong ternyata bisa dikelabui juga. Mana ada di dunia ini seruling sakti yang bisa mendatangkan makanan sendiri. Kalau ingin mendapatkan makanan kita harus berusaha. Kita harus bekerja untuk mendapatkannya. Mana mungkin hanya dengan bermalas-malasan kita mendapatkan makanan. Hahahahahahaha....Tidakkah kamu tahu bahwa bunyi seruling tadi sebenarnya adalah suara yang berasal dari rerimbunan bambu yang ditiup angin kencang. Memang suaranya begitu. Hahahaha...."
           Si harimau akhirnya menyadari akan kebodohannya. Kenapa ia mudah percaya cerita teman tanpa berpikir dampaknya. Kenapa ia mudah tergoda jabatan yang belum tentu sesuai dengan kemampuannya sehingga melupakan akal sehatnya. Kini penyesalan si harimau tidak ada artinya.
           Sementara itu, kini Pak Kancil merasa senang bisa hidup bebas. Dia berjalan sambil berlompat-lompatan pulang ke rumahnya.



selesai


sumenep, 2 Nopember 2012


moral cerita : Jangan suka merasa bangga dengan kekuatan diri sendiri sehingga meremehkan kekuatan
                     lawan. Jangan gegabah memutuskan sesuatu persoalan penting tanpa memikirkan dampak
                     jangka panjangnya.